Ghiboo.com - Bagi bayi, botol susu bayi, dot dan cangkir sippy
(cangkir berpegangan) merupakan teman keseharian mereka. Hampir setiap
hari, balita dan bayi berinteraksi dengan barang-barang ini. Tetapi
ternyata tersembunyi risiko yang mengancam kesehatan anak.
Para peneliti dari center for Biobehavioral Health and the Center for Injury Research and Policy at Nationwide Children's Hospital menganalisis sejumlah anak di bawah 3 tahun yang mengalami cedera terkait penggunaan barang-barang tersebut. Setelah memeriksa data yang dikumpulkan dari lebih 100 rumah sakit, peneliti menemukan lebih dari 45.398 anak di bawah usia tiga tahun masuk ke unit gawat darurat karena cedera terkait penggunaan salah satu barang tersebut sejak tahun 1991-2010.
"Banyak orangtua bayi yang tidak pernah menyangka adanya kemungkinan cedera yang berhubungan dengan barang ini," ungkap Sarah Keim, peneliti Nationwide Children's Hospital in Columbus, Ohio, dilansir melalui Healthday (15/5).
Menurut Keim dan timnya, 71 persen cedera terjadi di mulut dan 20 persennya terjadi di sekitar wajah, kepala atau leher. Penyebab terbesar diperkirakan adalah botol susu bayi, yaitu sebesar dua pertiga. Selanjutnya, penyebab kedua adalah dot (20 persen) dan cangkir sippy (14 persen).
"Kami mengira cedera ini terjadi karena anak-anak berjalan atau berlari dengan botol susu, dot atau cangkir sippy di dalam mulut mereka. Dua sepertiga korban cedera adalah anak-anak usia 1 tahun. Pada usia itu, anak sedang aktifnya bergerak padahal kakinya belum cukup kuat. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa sekitar 86 persen dari cedera adalah jatuh," jelas Keim.
Sebagai upaya untuk menghindari cedera mulut atau gigi, Keim mengatakan bahwa para orangtua harus menyapih anak-anaknya menggunakan cangkir untuk minum susu setelah 12 bulan. Orangtua juga disarankan untuk mendorong anak-anak mereka untuk duduk ketika menggunakan barang-barang ini demi menghindari cedera akibat jatuh dan melukai diri anak sendiri.
BACA JUGA:
Agar ibu tak tularkan HIV/AIDS pada bayinya
Hati-hati diabetes mellitus menyerang bayi
Tren nama bayi di 2012
Bayi prematur berpeluang menderita autisme lima kali lebih besar
Bayi sering ingin muntah, kenapa ya?
Artikel Pilihan Redaksi
PEDOMAN KOMENTAR
Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.
Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.
Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.
Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.
Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar nuansa kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.
Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar